akuntan publik wartono line

Kantor Akuntan Publik Wartono - Registered Public Accountant

akuntan publik wartono line

Menyibak Kejumudan Auditor dalam Menjalankan Pekerjaan Pengauditan

Drs. W a r t o n o, M.Si., Akuntan, CPA

Pengajar Universitas Sebelas Maret dan

Managing Partner Kantor Akuntan Publik Wartono

Abstrak

Tujuan tulisan ini menyibak keterbelengguan auditor dalam melaksanakan pekerjaan pengauditan atas laporan keuangan. Audit pada dasarnya menilai atau memberikan opini mengenai kewajaran atas laporan akuntansi. Sesuai dengan framewaork akuntansi konvensional, auditor melihat laporan akuntansi tidak lebih dari sekedar suatu kejadian atau transaksi yang dinyatakan dalam angka moneter. Ini dilakukan karena standar yang mengatur mendasarkan pada asumsi akuntansi konvensional yang dinyatakan dalam angka-angka moneter. Oleh karenanya, dalam memandang realitas kejadian ekonomi, tidak mustahil kalau auditor berpegang bahwa realitas adalah angka-angka numerik (moneter). Sementara para pihak yang berkepentingan (termasuk pembuat laporan akuntansi) memandang sebagai realitas sosial dari berbagai sudut pandang sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Akibatnya hasil laporan keuangan yang diaudit tidak bisa mencerminkan realitas sebagaimana adanya, meskipun secara material sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum (unqualified opinion).

1. Pendahuluan

Auditor dalam melaksanakan pekerjaan senantiasa mendasarkan pada laporan akuntansi (laporan keuangan) yang akan diaudit. Seperti halnya seorang yang diminta menilai-misalnya empat buah gambar diatas kanvas yang dibuat oleh empat orang pelukis. Masing-masing pelukis merepresentasikan realitas melalui gambar berdasarkan pengetahuan, pengalaman, dan imaginasi yang dapat mereka tangkap. Setiap pelukis mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda dalam melihat realita sesuai dengan kreasinya. Sementara itu seorang penilai gambar hanya mendasarkan frame penilaiannya berdasarkan kriteria tertentu yang telah mapan ( one-side way ) dan tidak melihat dari perspektif sang pembuat atau calon pemakainya.

Gambaran diatas merupakan analogi antara auditor dengan laporan akuntansi. Seorang penilai lukisan berperan sebagai auditor dan hasil lukisan (gambar) sebagai laporan akuntansi yang dibuat oleh pembuat/penyusun laporan yang sarat dengan kepentingan para pemakai. Kedua sisi (pandangan auditor atas laporan akuntansi dan hasil kreasi (pandangan) pembuat berupa laporan akuntansi) tidak memakai perspektif yang sama. Auditor dalam menjalankan pekerjaannya berpedoman pada standar auditing yang ditetapkan oleh badan pembuat standar (satu perspektif). Sementara ™realitas™ kejadian ekonomi-direpresentasikan dalam laporan akuntansi bisa dilihat dari berbagai-multi perspektif. Hasil penilaian atau opinai auditor bisa diprediksikan akan jauh dari realitas sebagaimana adanya.

Akuntansi sebagai representasi realitas sosial, telah dikembangkan oleh Morgan (1988). Morgan mengkonstruksi bagaimana akuntansi sebagai pusat proses kontruksi realitas sosial. Melalui ilustrasi akuntansi sebagai suatu metaforial realitas sosial, perkembangan terkini ditunjukkan bahwa akuntansi tidak bisa dilihat hanya dari satu metafora saja. Teori akuntasi bisa dilihat dari berbagai metafora misalnya: akuntansi sebagai histori, akuntansi sebagai ekonomi, akuntansi sebagai informasi akuntansi sebagai suatu bahasa, akuntansi sebagai politis, akuntansi sebagai mitologi, akuntansi sebagai magic , akuntansi sebagai pengendalian, akuntansi sebagai ideologi, dan akuntansi sebagai dominasi dan eksploitasi. Selanjutnya Morgan menyatakan bahwa tak satupun metafora yang dapat merepresentasi keseluruhan sifat akuntansi sebagai fenomena sosial, seperti halnya pada aspek kehidupan sosial lainnya, secara inheren adalah kompleks, multi-dimensional dan paradoksikal (Morgan 1988, 461).

Dengan melihat sifat akuntansi diatas, tentunya auditor tidak akan dapat membaca dan menilai laporan akuntansi yang kompleks, multi-dimensional dan paradoksikal jika auditor hanya mendasarkan pada satu kerangka standar yang konvensional-Standar Auditing ( one-side way ). Dapatkan auditor menilai atau memberi opini tentang laporan akuntansi sebagai realitas sosial sebagaimana adanya di dalam lingkungan yang serba kompleks dan multidimensional jika hanya berpedoman pada kemapanan standar yang konvensional? Paper ini akan menyibak kejumudan auditor dalam menjalankan pekerjaan auditnya dengan satu cara pandang ( one-side way ), sementara obyek yang dinilai dilingkupi lingkungan yang serba kompleks dan multidimensional. Uraian akan dimulai dari akuntansi (laporan keuangan) dalam perspektif multidimensional.

2. Akuntansi Dalam Prespektif Multidimensional

Akuntansi pada hakikatnya berkaitan dengan masalah representasi dan accounting for . Seperti para ahli organisasi, akuntan pada hakikatnya harus merepresentasikan realitas-realitas kompleks yang multidimensional melalui konstruk-konstruk metaforial yang selalu terbatas dan tidak lengkap.

Praktik akuntansi dikerangkai oleh metafora pandangan realitas yang numarikal. Seperti halnya para ahli organisasi yang pada awalnya mencoba merepresentasi organisasi melalui prinsip birokratik yang diturunkan dari bayangan bahwa suatu organisasi adalah mesin, para akuntan mencoba merepresentasi organisasi dan aktivitasnya dalam istilah atau konsep angka. Ini merupakan metaforial. Oleh karenanya pandangan angka merupakan aspek realitas organisasional yang dapat dikuantifikasi dan dibangun di dalam rerangka kerja akuntansi.

Gagasan bahwa akuntan merepresentasikan realitas sebagaimana adanya melalui alat angka yang obyektif dan bebas nilai, pada akhirnya berkembang secara multidimensional sesuai dengan perkembangan yang selalu berubah dan kompleks. Berikut dikemukakan beberapa contoh metafora utama yang telah berkembang akhir-akhir ini:

Akuntansi sebagai historis: pandangan bahwa akuntansi berkaitan dengan penyediaan suatu catatan yang jujur atas transaksi dari suatu badan usaha, dan disertai pelaporan tarnsaksi tersebut dalam cara yang sesuai dengan kebutuhan pemakai (lihat misalnya Paton & Littleton, 1940, 1993).

Akuntansi sebagai ekonomi: pandangan bahwa akuntansi seharusnya mencerminkan atau mengambarkan realitas ekonomi yang sedang berjalan dan mencerminkan prinsip-prinsip dasar ekonomi (lihat misalnya Davis et al , 1982)

Akuntansi sebagai informasi: pandangan bahwa akuntansi seharusnya membentuk bagian dari rerangka kerja MIS secara luas (lihat misalnya Prakash & Rappaport, 1977; Snowball, 1980).

Akuntansi sebagai politis: pandangan bahwa akuntansi dan sistem akuntansi mencerminkan dan mendukung nilai-nila dan kebutuhan-kebutuhan kelompok-kelompok tertentu yang berkepentingan, dan bahwa informasi akuntansi disusun atau dibangun dan sebagai suatu sumber daya dalam pembentukan politik-politik korporasi, terutama dalam pengambilan keputusan dan impresi manajemen (lihat misalnya Burchell et al , 1980).

Akuntansi sebagai ideologi: pandangan bahwa sistem akuntansi merupakan bagian dari ideologi aparat yang dapat mempunyai kemampuan memproduksi dan menghasilkannya sesuai dengan prinsip-prinsip yang didefinisi secara jelas (lihat misalnya Merino & Neimark, 1982; Tinker et al , 1982).

Contoh dioatas hanyalah sebagian kecil cara pandang terhadap akuntansi sesuaidengan metaforanya. Dari contoh-contoh metafora diatas menunjukkan bahwa akuntansi dan laporan akuntansi mempunyai banyak perspektif yang multidimensimensional, dan kompleks sesuai dengan lingkungan yang melingkupinya dan untuk apa serta siapa yang berkepentingan dengan akuntansi. Oleh karenanya untuk dapat menilai atau memberi opini mengenai laporan akuntansi sebagaimana adanya, auditor selayaknya mengatahui apa metafora yang dipakai dalam mencerminkan realitas sosial tersebut. Tanpa mempertimbangkan apa metafora yang dipakai penilaian atas laporan keuangan tersebut bias dari realita sebagaimana adanya.

Uraian diatas menunjukkan bahwa akuntansi tidaklah bisa dipandang hanya dengan one-side way . Ia adalah kompleks, tergantung pada lingkungan yang melingkupinya dan siapa pihak yang berkepentingan. Inilah realitas sebagaimana adanya. Maka untuk menilai apakah hasil opini auditor bisa mencerminkan realitas ini, mari kita simak bagaimana kerangka pandang auditor dalam menilai suatu laporan akuntansi.

3. One-side Way Auditor dalam Menilai Laporan Akuntansi

Kita akan melihat bagaimana cara pandang auditor didalam menilai laporan akuntansi (laporan keuangan). Auditor dalam melaksanakan pekerjaannya mendasarkan pada Standar Auditing (di Indonesia Standar Profesional Akuntan Publik yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia). Standar tersebut mengadopsi dari standar auditing dari negara kapitalis Amerika. Auditing, seperti halnya akuntansi modern menitikberatkan hal-hal yang rasional dan oleh karenanya hal ini hanya berkaitan dengan realitas pisikal. Rasionalitas, dalam istilah modern, selalu berhubungan dengan realitas fisik. Rasionalitas dalam konteks ini sesungguhnya sangat sederhana dan terbatas. Ini mengabaikan segala hal yang nonfisikal, Chwastiak (1999, 429). Dalam konsep akuntansi konvensional, semua konsep akuntansi adalah materialistik. Konsep laba, contoh sederhana merupakan selisih lebih pendapatan materialistik atas beban materialistik. Tidak lebih dari itu. Konsep ini tidak mengakui laba berkenaan dengan psikis atau spiritual (Triyuwono -, 2)

Dalam menjalankan pekerjaan auditnya akuntan hanya berpaku pada hal-hal yang formal dan material sebagaimana diatur dalam standar profesional. Dalam standar auditing prinsip materialitas dan formal (validitas, kelengkapan, dan sumber dokumen) menjadi pertimbangan utama dalam menilai atau memberikan opini, mengabaikan aspek lain seperti psikis atau immaterial dan in-formal. Dalam standar tersebut, pekerjaan auditing harus berpedoman pada tiga standar yakni: standar umum, standar pekerjaan lapangan, dan standar pelaporan. Standar tersebut mendasarkan pada obyek akuntansi auditan yang konvensional, yakni akuntansi yang mendasarkan pada konsep sebagaimana diatur dalam FASB (1978). Dalam konsep laporan keuangan yang dikeluarkan FASB tersebut secara eksplistit diatur pedoman tentang: monetary unit, materialism, veriabilitas. Konsep-konsep tersebut sarat dengan angka-angka, materialitas, dan dokumentasi. Semua yang disebut ini mengesampingkan aspek-aspek lain yang tidak diungkapkan dalam laporan keuangan, misalnya kepuasan pelanggan, pelayanan sosial, hak buruh, integritas manajemen, dan lain-lain. Oleh karenanya aspek-aspek ini akan lolos dari penilaian seorang auditor.

Unruk melihat bagaiman auditor menilai laporan akuntansi, penulis menggunakan sudut pandang dari sisi pembuat laporan akuntansi dan dari sisi pihak-pihak yang berkepentingan dengan laporan akuntansi. Dibawah ini akan diuraikan keduanya

3.1. Penilaian Auditor Terhadap Pembuat Laporan Akuntansi

Audit adalah suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara obyektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan (Boynton & Kell 1995, 6). Dari pengertian tersebut jika dieksplisitkan dalam konteks Indonesia, audit adalah sebagai pemeriksaan keuangan oleh auditor independen, sesuai dengan Standar Profesional Akuntan Publik yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (Ikatan Akuntan Indonesia, 1994) yang ditujukan untuk menilai integritas pelaporan keuangan yang disusun atau dibuat oleh pembuat laporan .

Pekcrjaan audit pada prinsipnya adalah pekcrjaan menentukan integritas pengungkapan informasi dalam laporan keuangan yang disusun oleh pihak yang bertanggungjawab atas laporan akuntansi. Kewajiban untuk mengungkapkan informasi dalam laporan keuangan dengan penuh integritas adalah tanggungjawab direksi dari organisasi yang menjadi obyek audit, sementara kewa­jiban untuk memeriksa, menguji, menilai, dan kemudian memberikan kesaksian tertulis akan integritas direksi tersebut berada di pundak auditor. Integritas adalah begitu sentralnya bagi profesi auditor independen, karena profesi ini mempertaruhkan integritasnya untuk memberikan kesaksian tentang integritas pihak lain.

Kesaksian tentang integritas direksi dalam mengungkapkan laporan akuntansi itu hanya bisa dipercaya kalau auditor itu sendiri integritasnya memang baik. Dalam kaitan ini perlu dibedakan tiga tingkatan integritas.

    1. Keamanahan direksi dalam menja­lankan tugas yang diamanatkan kepadanya.
    2. Kejujuran direksi dalam melakukan pelaporan kcuangan.
    3. Integritas auditor dalam mengaudit dan kemudian memberikan opini atas integritas direksi dalam pelaporan keuangan. (Sudibyo, 2001)

Audit yang dilaksanakan dengan penuh integritas akan memberikan kesaksian secara benar tentang integritas pelaporan akuntansi. Audit oleh para auditor independen yang memenuhi Standar Profesional Akuntan Publik (Ikatan Akuntan Indonesia, 1994) diharapkan bisa memberikan dasar atau basis yang bisa dipercaya bagi para pembaca laporan audit untuk menentukan integritas manajemen atau direksi dalam mengungkapkan realitas sebagaimana adanya.

Kegagalan dalam menilai laporan akuntansi bisa terjadi karena kegagalan auditor untuk mempertahankan integritasnya pada tingkat individual, bisa pula karena kegagalan Ikatan Akuntan Indonesia sebagai suatu kolektivitas auditor untuk memberikan Standar Profesional Akuntan Publik yang mendukung integritas auditor pada tingkat individual, bisa pula karena keduanya.

Kegagalan jenis pertama bersifat individual dan karenanya tidak terkait langsung dengan kontrak sosial ataupun implementasi nilai ecologizing dari profesi auditor independen, kecuali jika auditor pada umumnya memang telah gagal mempertahankan integritasnya itu. Integritas mengacu kepada dua macam kualitas moral seseorang, yaitu (1) apakah ia jujur dalam mengekspresikan dirinya dan (2) apakah ia amanah dalam menjalankan kewajibannya (Trevino et al., _ ). Auditor yang jujur semata, tidak menyadari pentingnya keamanahan dalam melakukan tugas audit, tidak lebih hanyalah auditor yang lugu. Untuk bisa memenuhi standar kebebasan sikap mental, di samping jujur dalam sikapnya, seorang auditor juga dituntut untuk amanah dalam melaksanakan tugas auditnya.

Kejujuran dan sikap menyiratkan moralitas auditor. Moralitas auditor di Indonesia diatur dalam salah satu standar umum dari Standar Profesional Akuntan Publik (Ikatan Akuntan Indonesia, 1994), yaitu standar tentang independensi sikap mental. Semua standar umum menjiwai dan mendasari setiap standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan audit. Dalam kaitan itu, akan diuraikan suatu kesalah­pahaman yang begitu kaprah dan melembaga terhadap salah satu standar pekerjaan lapangan. Kesalahpahaman itu begitu mengakar pada pekerjaan audit yang dilakukan auditor. Dikatakan melembaga karena kesalahpahaman yang kaprah itu telah diadopsi oleh Standar Profe­sional Akuntan Publik yang diterbitkan oleh ikatan Akuntan Indonesia (Ikatan Akuntan Indonesia, 1994), dan secara tidak langsung diakui serta diterima oleh Pemerintah. Salah satu kesalahpahaman tersebut adalah evidential matter (Sudibyo, 2001).

Di Indonesia standar ini telah secara kaprah dan melembaga direduksi menjadi standar bukti, atau evidence. Dikatakan kaprah karena pemahaman para akuntan di Indonesia pada umumnya akan standar evidential matter itu, karena proses Pendidikan profesi yang kurang baik, memang tereduksi.

Kesalahpahaman itu dalam makalah ini ditinjau secara episte­mologis, karena epistemologi memang ilmu tentang kepahaman, dan karenanya juga ilmu tentang kesalahpahaman. Telaah epistemologis ini menyingkapkan beberapa fakta yang menarik.

    1. Ternyata literatur pengauditan di Amerika-pun, yang selama ini menjadi kiblat bagi wacana pengauditan di Indonesia baik pada tingkat akademis maupun praktis; juga tidak terlalu jelas dalam membedakan antara evidence dan evidential matter, sehingga kesalahpahaman yang kaprah dan melembaga itu di Indonesia sampai tingkat tertentu bisa dipahami.
    2. Telaah epistemologis itu memberikan pemahaman baru yang lebih mendalam tentang keterlibatan moral judgement dalam proses audit.
    3. Pemahaman baru tentang proses keterlibatan moral judgement dalam proscs audit itu, pada gilirannya sangat membantu dalam mengevaluasi tingkat mutu audit dan tingkat integritas pelaporan akuntansi.

Analisis Kalimat standar Evidential Matter. Kalimat asli dari standar evidential matter adalah sebagai berikut:

Sufficient competent evidential matter is to be obtained through inspection, observation, inquiries and confirmation to afford a reasonable basis for an opinion regarding the financial statements under examination. ” (AICPA, 1980).

Yang harus dicari oleh auditor dalam audit independennya, menurut standar ini, adalah sufficient competent evidential matter atau evidential matter yang kompeten dalam jumlah dan kualitas yang cukup. Prosedur pengauditan yang harus ditempuh untuk memperoleh evidential matter yang seperti itu adalah observasi, inspeksi, konfirmasi, dan wawancara. Evidential matter itu harus diperoleh oleh auditor untuk dipakai sebagai basis intelektual dan moral dalam menyatakan pendapatnya tentang laporan keuangan yang diauditnya.

Di Indonesia evidential matter ini secara kaprah, institusional, dan resmi telah direduksikan melalui penterje­mahan menjadi `bukti audit” (Ikatan Akuntan Indonesia, 1994). Pereduksian ini segera akan terasa jika istilah bukti audit ini ditranslasikan balik ke dalam bahasa Inggris yang tidak akan kembali ke istilah evidential matter. translasi balik dari bukti audit adalah audit evidence bukan evidential matter . Telaah epistemologis berikut ini menunjukkan perbedaan antara evidence dan evidential matter itu.

Bukti audit (evidence) dan evidential matter. Bukti audit merupakan obyek yang digali oleh para auditor. Obyek pengauditan adalah konkrit dan riil yaitu bukti-bukti atau evidence. Hasil dari aktivitas itu adalah kognisi atau pemahaman dan keyakinan akan bukti-bukti pengauditan. Pemahaman dan keyakinan akan bukti­-bukti pengauditan itulah yang dimaksud dengan evidential matter. Jadi, evidential matter ada di dalam benak auditor, bukan suatu realitas obyektif dan konkrit yang berada di luar kesadaran intelektual dan mental auditor. Evidendal matter tidak sama dengan evidence seperti dikontraskan pada Tabel berikut (lihat Sudibyo, 2001).

Perbandingan sifat antara Evidential matter dan Evidence

EVIDENTIAL MATTER

EVIDENCE

1

Ada di dalam benak atau kesadaranintelektual dan mental auditor Ada di luar benak auditor

2

Abstrak Konkrit, empiris

3

Realitas subyektif Realitas obyektif

4

Realitas substantif Realitas bentuk

Bukti-bukti ( evidence ) inilah yang telah secara kaprah, institusional dan resmi disalah mengertikan sebagai evidential matter . Reduksi pema­haman standar evidential matter ini telah berlangsung sekian lama, sejak mulai diperkenalkannya profesi pengauditan di negeri ini. Potensi dampaknya pada kualitas audit dan integritas pelaporan keuangan di Indonesia cukup serius (Sudibyo, 2001: 9)

Buku-buku teks yang cukup populer selama tiga dekade terakhir, seperti Cook dan Winkle (1976), Deflies dkk. (1975), Kell dan Ziegler (1980), Taylor dan Glezen (1982), Arens dan Loebecke (1984), Defliese dkk. (1984), Boynton dm Kell (1996), -Guy dkk. (1990), Taylor dan Glezen (1991), tidak membahas secara mendalam apa yang dimaksud dengan evidence dan evidential matter , apa perbedaan antara keduanya, proses mental apa yang harus dilakukan untuk mentransformasikan pengetahuan empirik tentang bukti audit yang konkrit menjadi evidential matter yang abstrak substantif, serta bagaimana moral judgement mengintervensi proses pengembangan evidential matter itu. Bahkan dokumen yang paling otoritatif di bidang ptaktik audit pun, yaitu Statements on Auditing Standards yang dikeluarkan oleh American Institute of Certified Public Accountants yang secara berkelanjutan senantiasa dilengkapi dan disempurnakan, juga gagal untuk menyadari adanya permasalahan epistemologis seperti itu.

Uraian diatas menyadarkan kita bahwa dalam menjalankan pekerjaan lapangan, auditor telah terbelenggu pada kerangka yang diatur dalam standar yang telah kaprah menjadikan evidence sebagai dasar yang meyakinkan dalam memberikan opininya. Ini juga menyiratkan bahwa selama ini penilaian atau pernyataan akan integritas direksi hanyalah dilihat dari sisi yang kongkrit, empiris, realitas obyektif, dan realitas bentuk, bukan dari realitas substantif yang abstraks. Padahal realitas substantif inilah yang menurut ( Christie, 2004) merupakan ˜rasionalitas subtantif™ sebagai lawan dari ˜rasionalitas formal™. Rasionalitas substantif inilah yang merupakan realitas sebagaimana adanya “ yang mungkin bisa diperoleh melalui konsep evidential matter , sedangkan rasionalitas formal ini merupakan output yang didapat dari evidence .

Ringkasnya, dengan melihat kekaprahan yang dilakukan auditor dan badan pembuat standar professional, dapat disarikan bahwa hasil penilaian atas laporan akuntansi yang dipertanggungjawabkan direksi hanyalah menghasilkan realitas formal karena proses pengauditan yang dilakukan hanyalah sampai pada tataran realitas konkrit, empiris dan bentuk. Sedangkan realitas sebagaimana adanya (realitas substantif) tidak berhasil dilakukan oleh auditor.

3.2. Penilaian Auditor Terhadap Pihak Yang Berkepentingan

Laporan akuntansi auditan merupakan laporan yang telah dinilai atau diberi opini oleh ahli yang independen yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan tersebut. Apa yang telah dinilai (opini) auditor diharapkan dapat merepresentasi kebutuhan para pemakai atau pihak yang berkepentingan. Jika auditor tidak bisa menilai laporan akuntansi sebagaimana adanya, berarti auditor telah gagal memenuhi kebutuhan stakeholder utamanya, yaitu pihak-pihak yang berkepentingan dengan laporan akuntansi auditan. Kegagalan itu identik dengan kegagalan menjalankan fungsi sosialnya yang implisit dalam kontrak sosial yang mendasari keberadaan dan hak hidup profesi auditor indepcnden di tengah-­tengah masyarakatnya. Teori kontrak sosial tentang etika institusi sosial (Fritzche, 1997) atau tentang profesi akuntan (Burton dan Tipgos, 1977) memprediksi bahwa kegagalan yang terus menerus dan kaprah untuk memenuhi kontrak sosial itu akan menyebabkan, cepat atau lambat, dicabutnya hak hidup profesi itu oleh masyarakat melalui suatu proses sosial yang biasanya menyakitkan. Teori kompleksitas tentang etika institusi sosial (Frederick, 1995, 1998; Wood, 1996 A, 1996B; Lirtzman, 1997; Fort, 1997; Stanfield, 1998; Derry dkk., 1999; Hauserman 1999, dan Danley, 2000), pada hemat penulis, akan memandang kegagalan itu sebagai kegagalan profesi auditor independen untuk mengimplementasikan suatu nilai dasar yang mendukung koeksistensinya bersama entitas sosial lainnya, yaitu nilai ecologizing . Kegagalan mengimplementasikan nilai ecologizing berarti kegalan untuk memberikan kontribusi yang semestinya kepada kebersamaan serta mutualisme hidup di antara sesama entitas sosial. Kegagalan itu menyebabkan profesi itu tidak lagi fit dengan lingkungan alaminya, baik yang bersifat sosial maupun yang natural, dan melalui proses seleksi alami Darwinian profesi itu akan kehilangan kemampuannya untuk tetap bertahan hidup dalam situasi saling terhubung dan saling tergantung secara mutualistis dengan entitas sosial lainnya.

Telah diuraikan dimuka bahwa para pemakai atau pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan akuntansi memandang akuntansi berdasarkan kacamata mereka masing-masing. Multi dimensi para pemakai bisa bervariasi menurup kepentingan mereka masing-masing. Pihak yang berkepentingan bisa mendasarkan pandangannya bahwa akuntansi seharusnya mencerminkan atau mengambarkan realitas ekonomi yang sedang berjalan dan mencerminkan prinsip-prinsip dasar ekonomi (Davis et al , 1982); pandangan lain bahwa akuntansi seharusnya membentuk bagian dari rerangka kerja MIS secara luas (Prakash & Rappaport, 1977; Snowball, 1980); Pandangan berikutnya bahwa akuntansi dan sistem akuntansi mencerminkan dan mendukung nilai-nila dan kebutuhan-kebutuhan kelompok-kelompok tertentu yang berkepentingan, dan bahwa informasi akuntansi disusun atau dibangun dan sebagai suatu sumber daya dalam pembentukan politik-politik korporasi, terutama dalam pengambilan keputusan dan impresi manajemen (Burchell et al , 1980), lainnynya memandang bahwa sistem akuntansi merupakan bagian dari ideologi aparat yang dapat mempunyai kemampuan memproduksi dan menghasilkannya sesuai dengan prinsip-prinsip yang didefinisi secara jelas (Merino & Neimark, 1982; Tinker et al , 1982), dan laim-lain pandangan. Ini menunjukkan bahwa realitas tidaklah bisa dikonklusikan hanya dari satu cara pandang saja, realitas adalah kompleks dan multidimensional, Oleh karenanya, agar hasil pekerjaan audit dapat fit dengan para pihak yang berkepentingan, maka proses penilaian (pekerjaan lapangan) yang dilakukan oleh auditor haruslah dapat merepresentasi kepentingan mereka.

Apa yang dilakukan oleh auditor dalam memberikan simpulan atas hasil auditnya? Apakah auditor telah melaksanakan pekerjaannya yang dapat merepresentasi kebutuhan pemakai? Auditor dalam menjalankan pekerjaanya menggunakan pola satu sudut pandang, yakni mendasarkan pola pandang bahwa akuntansi merupakan kejadian ekonomi yang dinyatakan dalam satuan moneter. Dalam memberikan opininya ia mengumpulkan bukti pemeriksaan yang fisikal, formal dan konkrit. Sudut pandang ini tentunya hanya menghasilkan sebuah output laporan hasil audit yang parsial-tidak bisa merepresentasi semua kebutuhan para pihak yang berkepentingan. Oleh karenanya, hasil audit atas laporan akuntansi tidaklah bisa merepresentari realitas sebagaimana adanya (dari sisi pemakai).

Salah satu contoh, pihak yang berkepentingan seperti kreditur menginginkan bahwa laporan keuangan haruslah bisa akai sebagai dasar dalam pengambilan keputusan pemberian kredit. Sementara laporan akuntansi (keuangan) mendasarkan historikal-tidak mencerminkan nilai sekarang. Sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum, auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan telah memenuhi kualifikasi yang tertinggi yanki unqualified opinion . Contoh lain adalah untuk kepentingan politis, pihak yang berkepentingan seperti misalnya buruh ingin mendapatkan penghargaan baik yang sifatnya material maupun non material sesuai dengan peran meraka di dalam korporasi. Meskipun hasil audit atas laporan keuangan menghasilkan unqualified opinion , ternyata laporan keuangan ini tidak dapat membantu buruh dalam memperoleh infornasi sesuai dengan kepentingan buruh. Ini semua terjadi karena auditor terkungkung oleh standar yang kaku, yang hanya melihat dari angka-angka moneter, konkrit, fisikal.

Dua contoh diatas menunjukkan bahwa hasil laporan auditan sebagai output auditor, ternyata tidak fit dengan para pihak yang berkepentingan dengan laporan akuntansi. Dengan demikian hasil audit tidak akan dapat mencerminkan realitas sebagaimana adanya.

4. Penutup

Untuk melihat secara empiris perlu kiranya dilakukan studi yang berkaitan dengan auditing dengan mengambil obyek penelitian yang beragam yang mencerminkan variasi kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan. Misalnya audit untuk konsumsi pemerintahan (sudut pandang akuntansi sebagai politik), konsumen perbankan (sudit pandang akuntansi untuk pengambilan keputusan), dan sudut pandang akuntansi untuk kepentingan lainnya.\r\n

Daftar Referensi

\r\nAmerican Institute of Certified Public Accountants (AICPA), 1980, Codification of Statements on AuditingStandards ; Numbers 1 to 26, CommaFCe-Clearing House, Chicago.

Arens, A.A. and J.. Loebecke, 1984, Auditing: an Integrated Approach , 3th Ed., Prenticc Hall Inc., Anglewood Cli`ffs, New Jersey.

Boynton, W.C. and W-.G. Kcll, 1996, Modern Auditing , 6th Ed., John Wiky &Sons, New York.

Brooks, 1995, Higher Stakes, CA Magazine, Vo1.128, Iss.2, March, p. 53-54.

Burchell, S., Clubb, C., Hopwood, A., Hughes, S., & Naphapiet, J., 1980, œThe Role of Accounting in Organization and Society, Accounting Organization and Society , p. 5-28.

Burton , and M.A. Tigos, 1977, œToward a Theory of Corporate Social Accounting, Accounting Review , Oct., p. 971-978.

Chwastiak, Michele. (1999). Deconstructing the principle-agent model: a view from the bottom. Critical Perspectives on .Accounting . Vol. 10. No. 4: 425-441.

Cook, J.W. and G.W. Winkle, 1976, Auditing: Philosophy and Technique , Hoghton Miflin Co., Boston.

Christie, Nancy, Bruno Dyck, Janet Morrill, Ross Stewart, 2004, œEscaping the Materialistic-individualistic Iron Cage: a Waberian Agenda for Alternative Radaical Accounting., The Fourth Asia Pasific Interdisiplinary Research in Accounting (Apira) 2004 Conference, Singapore

Danley, J.R., 2000, œ Philosophy, Science and Business Ethics: Fre­derick”s New Normative Synthesis, ” Journal of Business Ethics , Vol. 226, Iss. 2, Jul., p. 111.

Davis, S.W., Menon, K. & Morgan, G., œThe Images that Have shaped Accounting Theory, Accounting Organization and Society , p. 307-318.

Deflicsc, P, K.P. Johnson, R.K. MacLeod, 1975, Montgomery ”s Auditing , 9th Ed., The Ronald Press Co., New York.

Defliesc, P., HL. Jaenicke, J.D. Sullivan, and R.A. Gnospclius, 1984, Montgomery ”s Auditing , 10th -Ed., The Ronald Press Co., New York.

Derry , R., T.L. Fort, W.C. Frederick, N.R. Hauserman, 1999, œNature™s Place in Legal and Ethical Reasoning; an Interactive Commentary on William Frederick™s Values, Nature and Culture in the American Coreporation, American Business Low Journal , Vol. 6, p. 633-669.

Frederick, D.J., 1995, Values, Nature and Culture in the American Coreporation , Oxford University Press, NY.

———–, `1998, œCreatures, Corporations, Communities, Chaos, Complexity, Business & Society , Vol. 34, No. 4Dec., p. 358-389.

Fritzche, D.J., 1997, Business Ethics: a Global Managerial Pers­pective , McGraw-Hill-Co. Inc., New York

Guy, D.M., C.W. Alderman, and A.J. Winters, 1990, Auditing , 2nd .Ed., Harcourt Brace Jovanovich, San Diego.

Hauserman, N., 1999, œNew Values, New Conflicts: A Response to William Frederick”s valus, Nature, and Culture in the American Corporations, Business & Society , Vol. 38, Iss. 2, Jun. p. 212 – 216.

Ikatan Akuntan Indonesia, 1994, Standar Profesinaol Akuntan Publik: Standar Auditing, Standar Atestasi, Standar Jasa Akuntansi dan Review per 1 Agustus 1994, ST1E YKPN Yogyakarta.

Kell, W.G. and R.E. Zicgicr, 1980, Modern Auditing , Warren, Gorham & Lamont Inc., Boston

Lirtzman, S.L, 1997, œ Values, Nature, and Culure in the American Corporation, Academy Management Review , Vo1.22, p. 571.

Merino, B.D., & Neimark, M.D., 1982, œDisclusure Regulation and Public Policy,™ Journal of Accounting and Public Policy , p. 33-57

Morgan, Gareth, 1988, œAccounting as Reality Construction: Toward a New Epistemology for Accounting Practice, Accounting Organization and Society , p. 477-485.

Paton, W.A. and A.C. i.ittleton, 1940, an Introduction to Corporate Accounting Standards , American Accounting Association Monograph No. 3.

Prakash, P., & Rappaport, A., 1977, œInformation Inductance and its Significance in Accounting, Accounting Organization and Society , p. 29-38.

Snowball, D., 1980, œon The Integration of Accounting Research in Human Information Processing, Accounting and Business Research , p. 278-318.

Stanfield, J.R., 1998, œ Values, Nature, and Culture in the American Corporation, Journal of Socio-economics , Vol. 27, p. 468.

Sudibyo, Bambang, (2001). Telaah Epistemologis Standar Evidential Matter serta Implikasinya pada Kualitas Audit dan Integritas Pelaporan Keuangan, Makalah Seminar Nasional Akuntan Indonesia, Surabaya 19-21 Th 2001,

Tinker, A.M., Merino, B.D., & Nelmark, M.D., 1982, œThe Normative Origins of Positive Theories: Ideology and Accounting thought, Accounting, Organizations and Sociery, p. 167-200.

Taylor, D.H. and G.W. Glezen, 1982, Auditing: Integrated Concept and Procedures , 2nd Ed., John Wiley & Sons, New York.

Triyuwono, Iwan, – , The Rationality and The Intuition Unfolding The Hidden Connection on Accounting . Dept. of Accounting Brawijaya University.

Wood, D.J.,,1996, œ Values, Nature, and Culture in the American Corporation, A Book Review, Business & Society , Vol. 35, p. 520-‘, ‘Menyibak Kejumudan Auditor dalam Menjalankan Pekerjaan Pengauditan ‘,

Posted on November 30th, 2021 by kap@wartono.co.id

0 Comments

Leave a Reply

Home
Profil
Jasa Kami
Klien
Hubungi Kami
Info
Galeri
Artikel

Drs. Wartono, M.Si, Akt, CPA

KONSULTAN - Badan Layanan Umum dan Badan Layanan Umum Daerah

Anggota Ikatan Akuntan Indonesia

Copyright 2022 Kantor Akuntan Publik Wartono - Registered Public Accountant